[K-Drama] Flower Boy Next Door (2013)

Go Dok Mi adalah seorang gadis yang tidak pernah berani menginjakkan kakinya di dunia luar. Satu-satunya tempat yang menurutnya aman dan nyaman adalah apartemennya sendiri.

[K-Drama] That Winter, The Wind Blows (2013)

Oh Young (Song Hye Kyo) adalah seorang gadis buta yang hidup penuh dengan harta kekayaan namun merasa kesepian. Tidak ada seorang pun yang dapat ia percayai, terutama ibu tirinya.

Foto-Foto Park Yoochun (Micky Yoochun)

Berikut Ini adalah Koleksi Foto-Foto dari Bintang Ternama Korea "Park Yoochun (Micky Yoochun)".

[K-Drama] Cheongdamdong Alice (2012)

Han Se Kyung adalah seorang designer yang berbakat namun ia terbentur latar belakang pendidikan. Karena ia hanya berkuliah di dalam negeri, banyak perusahan-perusahaan terkemuka yang menolaknya.

[K-Drama] 7th Grade Civil Servant (2013)

A romantic comedy about a spy couple who hides their true identity from each other and at the same time illustrates about the love, friendship and internal department conflicts.

Jumat, 16 November 2012

PBL Blok 2: Berpikir Kritis dalam Menyelesaikan Permasalahan Kurangnya Tenaga Medis di Pulau Terpencil Dilihat dari Religius Worldview


Abstrak
Pelayanan kesehatan dan tenaga medis adalah salah satu fasilitas yang seringkali tidak terpenuhi di pulau-pulau terpencil, salah satunya terjadi di Pulau Tujuh. Ada banyak faktor yang menyebabkan kurangnya tenaga medis di pulau terpencil tersebut, diantaranya prespektif tenaga medis berkaitan dengan pulau terpencil, fasilitas yang disediakan, anggaran dana dari pemerintah pusat, dan publikasi yang kurang. Untuk menemukan solusi yang tepat, maka masalah tersebut harus didalami dengan cara berpikir kritis melalui 5W+1H. Selain itu, kita tetap harus merujuk pada religius worldview dalam mengambil keputusan. Keputusan yang ada haruslah berdasarkan akal kita dan juga berdasarkan pada pernyataan Allah. Pada akhirnya, setiap penyelesaian dan keputusan yang kita ambil harus selalu dipertimbangkan dengan memperhatikan nilai-nilai dalam masyarakat.
Kata Kunci : kurangnya tenaga medis, berpikir kritis, religius worldview

Abstract
Medical and health services are among the facilities that are often not met in the remote islands, one of them are occurred on the Tujuh Island. There are many factors that cause a lack of medical personnel in the outlying islands, including the perspective of medical personnel relating to a desert island, the facilities provided, the funds from the central government budget, and the lack of publicity. To find the right solution, then the problem should be explored by the way of critical thinking through the 5W +1 H. Besides, we still have to refer to a religious worldview in making decisions. Decisions should be reasonable and also based on the revelation of God. In the end, every settlement, and the decisions we make should always be considered with respect to the values in the society.
Keywords: lack of medical personnel, critical thinking, religious worldview

Pendahuluan
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Tidak bisa dipungkiri, terlalu luasnya negara Indonesia membuat beberapa pulau menjadi tertinggal dalam banyak hal. Pulau yang tertinggal jauh perkembangannya dari pulau lainnya sering disebut-sebut dengan istilah pulau terpencil. Di pulau terpencil, berbagai fasilitas penunjang kehidupan masyarakat sangat minim bahkan nyaris tidak ada. Pelayanan kesehatan dan tenaga medis adalah salah satu fasilitas yang seringkali tidak terpenuhi di pulau-pulau terpencil. Tenaga medis seperti dokter keluarga yang sangat dibutuhkan di pulau terpencil, justru tidak tersedia. Padahal, pelayanan kesehatan dan tenaga medis sangat penting dan harus menjad prioritas utama yang terpenuhi.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kurangnya tenaga medis di pulau terpencil, diantaranya prespektif tenaga medis berkaitan dengan pulau terpencil, fasilitas yang disediakan, anggaran dana dari pemerintah pusat, dan publikasi yang kurang. Untuk itu dibutuhkan cara berpikir yang kritis untuk menemukan solusi bagi permasalahan ini. Selain itu, kita juga harus tetap berpegang pada religius worldview dalam mengambil keputusan. Dengan ditemukannya solusi yang tepat bagi permasalahan ini, taraf hidup masyarakat di pulau tepencil dapat ditingkatkan dan kesehatan masyarakat disana dapat terjamin.

Pembahasan
1.      Pengertian Berpikir Kritis
John Chaffee mendefinisikan berpikir kritis sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Dimotivasi oleh keinginan untuk menemukan jawaban dan mencapai pemahaman, pemikir kritis mengevaluasi pemikiran tersirat dari apa yang mereka dengar dan mereka baca. Kemudian, mereka akan meneliti proses berpikir mereka sendiri – apakah masuk akal, ketika hendak memecahkan masalah, membuat keputusan, menulis atau mengembangkan sebuah proyek.1
Berpikir kritis (critical thinking) ada bermacam-macam, pada umumnya di dalamnya terkandung pengertian mengenai menggali makna suatu masalah secara lebih mendalam, berpikiran terbuka terhadap pendekatan dan pandangan yang berbeda-beda, dan menetapkan untuk diri sendiri hal-hal yang akan diyakini dan dilakukan. Para peneliti menemukan bahwa program berpikir kritisi itu akan efektif jika bersifat domain-spesific (menyangkut hal-hal yang berhubungan langsung dengan masalah) daripada jika bersifat domain-general (berisi hal-hal umum).2

2.      Menggali Permasalahan dengan 5W+1H
“5W+1H” adalah what (apa), when (kapan), where (dimana), who (siapa), why (kenapa), dan how (bagaimana). “5W+1H” adalah kata tanya yang menimbulkan pengaruh, inspirasi, dan imajinasi. Pada prakteknya, “5W+1H” dapat digunakan untuk mengumpulkan data, selama tahap perumusan dan pemecahan masalah dengan cara yang sistematik untuk menemukan berbagai jawaban. Respons pertanyaan yang dimulai “5W+1H” berupa fakta daripada tindakan atau masalah.3
Dengan menggunakan “5W+1H”, usaha untuk mendalami suatu kasus atau permasalahan menjadi lebih mudah. Dengan begitu, diharapkan penyelesaian untuk permasalahan tersebut dapat dirumuskan dengan tepat, yaitu langsung kepada inti permasalahan. Dibawah ini akan diuraikan hasil dari penggalian kasus menggunakan “5W+1H”.
2.1  What: Apa Permasalahan yang Sedang Terjadi?
Dalam kasus disebutkan secara jelas bahwa permasalahan yang terjadi adalah kurangnya tenaga medis di pulau terpencil. Untuk kasus ini, pulau terpencil yang dimaksud adalah Pulau Tujuh.
2.2  When: Kapan Permasalahan Tersebut Terjadi?
Dalam kasus tidak terdapat kalimat atau penjelasan yang menyebutkan kapan tepatnya permasalahan tersebut terjadi.
2.3  Where: Dimana Permasalahan Tersebut Terjadi?
Sesuai dengan skenario kasus yang diterima, permasalahan tersebut terjadi di salah satu pulau terpencil yaitu Pulau Tujuh.
2.4  Who: Siapa yang Terlibat Dalam Permasalahan Tersebut?
Masyarakat dan Dinas Kesehatan terlibat dalam permasalahan di kasus ini Masyarakat yang berdomisili di pulau terpencil menjadi korban dari kurangnya tenaga medis. Mereka harus menempuh jarak jauh dan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan layanan kesehatan. Sementara itu secara tidak langsung Dinas Kesehatan turut bertanggung jawab atas terjadinya permasalahan ini.
2.5  Why: Kenapa Permasalahan Tersebut Dapat Timbul?
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya permasalahan seperti pada kasus diatas. Dari begitu banyak faktor yang dapat menyebabkan kurangnya tenaga medis di pulau terpencil, ada tiga faktor yang paling dominan. Faktor-faktor tersebut adalah perspektif dokter terhadap kondisi pulau terpencil tersebut, anggaran dana dari pemerintah pusat, dan publikasi yang kurang.
2.5.1        Perspektif Dokter Terhadap Kondisi Pulau Terpencil
Data Departemen Kesehatan tahun 1978 mencatat informasi bahwa jumlah dokter spesialis yang ada di Indonesia sebanyak 115 orang, dokter umum 8.000 orang, dan bidan 16.888 orang.4  Angka ini tentu terus mengalami peningkatan hingga tahun 2012. Berdasarkan fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah dokter di Indonesia sebenarnya cukup banyak. Lalu mengapa masih banyak pulau maupun daerah yang kekurangan tenaga medis? Jawabannya adalah karena berbagai perspektif (pandangan) masing dokter tentang beberapa pulau di Indonesia, yang memunculkan golongan pulau yang diminati dan tidak diminati.
Dalam kasus ini, Pulau Tujuh tampaknya menjadi salah satu pulau yang kurang diminati. Kemungkinan besar, dokter-dokter enggan untuk memiliki berpraktek di Pulau Tujuh karena alasan keamanan. Pasalnya Pulau Tujuh masih berstatus quo yang diperebutkan oleh Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Riau, sehingga masih memungkin untuk memicu konflik.5 Namun tidak menutup kemungkinan masih banyak alasan-alasan lain yang membuat dokter enggan untuk berpraktek di pulau ini. Hal-hal yang berkaitan dengan transportasi, kondisi alam dan cuaca, fasilitas (listik, rumah, dsb), dsb, juga ikut memberikan sumbangsih besar dalam menyokong pandangan seorang dokter terhadap suatu pulau yang hendak mereka tuju.
2.5.2        Anggaran Dana dari Pemerintah Pusat
Anggaran kesehatan pada tahun 2005 hanya mencapai Rp 7,7 trilliun, namun angka tersebut terus berkembang hingga pada tahun 2008 mencapai sekitar Rp 17,9 trilliun. Selain digulirkan ke puskesmas ataupun posyandu, dana tersebut juga digunakan untuk merekrut tenaga dokter dan paramedis.6  Dana tersebut akan terus meningkat dari tahun ke tahun mengingat bertambahnya jumlah masyarakat di Indonesia.
Melalui Permenkes No .132/Menkes/Per/IV/2006 tanggal 21 April 2006, Depkes RI mengeluarkan kebijakan pemberian insentif bagi dokter spesialis, dokter atau dokter gigi, dan bidan PTT (pegawai tidak tetap) yang bekerja di daerah terpencil di seluruh Indonesia. Besaran insentif yang ada yaitu: Rp 7.500.000,-/bulan untuk dokter spesialis, Rp 5.000.000,-/bulan untuk dokter atau dokter gigi, dan Rp 2.500.000,-/bulan untuk bidan.6
Permasalahannya adalah, tidak semua semua daerah dapat memberikan insentif tersebut, kabupaten khusunya yang baru dikembangkan, kemungkinan besar akan mengalami kesulitan. Banyak pemerintah daerah yang masih mengalami ketergantungan dengan pemerintah pusat.6 Selain itu, seringkali ada beberapa daerah yang mengalami kekurangan dana untuk meningkatkan fasilitas kesehatan mereka atau untuk merekrut tenaga medis karena anggaran yang ada tidak didistibusikan dengan baik. Hal inilah yang mungkin terjadi pada Pulau Tujuh dan menyebabkan kurangnya tenaga medis disana.
2.5.3        Publikasi yang Kurang
Kurangnya media yang mempublikasikan kondisi Pulau Tujuh, mungkin dapat menjadi salah satu penyebab mengapa Pulau Tujuh mengalami permasalahan kekurangan tenaga medis. Hanya segelintir orang yang mengetahui permsalahan ini, sehingga hanya sedikit orang jugalah yang akhirnya turun tangan untuk memberi sumbangsih bagi pulau ini. Publikasi baik melalui media cetak maupun media elektronik yang berisi tentang kodisi pulau dan permasalahan yang sedang dihadapi sangatlah dibutuhkan. Hal ini agar banyak orang yang mengetahuinya dan dengan begitu setidaknya dapat menarik sejumlah besar simpati dari masyarakat.
2.6  How: Bagaimana Cara Menyelesaikan Permasalahan Tersebut?
Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk bisa menyelesaikan permasalahan kurangnya tenaga medis di Pulau Tujuh. Diantaranya adalah: perbaikan sistem sehingga pendistribusian anggaran dapat mencapai Pulau Tujuh, mempublikasikan Pulau Tujuh lewat media cetak maupun elektronik, segera menetapkan status Pulau Tujuh, dan menghapuskan paradigma buruk para dokter terhadap Pulau Tujuh lewat berbagai media yang dapat menyentuh hati nurani serta perasaan empati mereka.
Apabila anggaran dana yang sampai di Pulau Tujuh tidak sesuai seperti yang telah dianggarkan atau bahkan angkanya menjadi lebih kecil, maka pemerintah (terkhusus Dinas Kesehatan) wajib untuk menilai kembali sistem distribusi anggaran yang telah mereka lakukan selama ini. Apabila memang didapati kekurangan maupun kesalahan dalam sistem tersebut, maka seharusnya dengan cepat pemerintah dapat memperbaikinya agar permasalahan ini tidak berlarut-larut.
Orang-orang di Indonesia sudah akrap dengan berbagai media elektronik maupun media cetak. Hampir setiap hari orang Indonesia berhadapan dengan media-media sumber informasi tersebut. Pulau Tujuh dan permsalahannya harusnya diekspose ke media untuk mendapatkan simpati dari banya pihak. Dengan mempublikasikan kondisi Pulau Tujuh yang kekurangan tenaga medis dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat disana, diharapkan banyak orang yang melihatnya dan kemudian bersimpati yang berujung pada kesukarelaan untuk menolong menyelesaikan permasalahan ini.
Mengubah paradigma seseorang tidaklah mudah, meskipun demikian kita pantas untuk mencoba melakukannya. Lewat publikasi yang telah dilakukan di beberapa media, diharapkan dapat mengetuh hati nurani dokter untuk mengabdi di Pulau Tujuh. Lewat panggilan jiwa yang sifatnya sukarela tersebut maka berbagai kekurangan (dalam hal transportasi, fasilitas, cuaca, dsb) tidak lagi menjadi penghalang.
Pada akhirnya, pemerintah harus cepat mengambil keputusan untuk menetapkan status dari Pulau Tujuh. Menyandang status yang masih diperebutkan membuat Pulau Tujuh terhambat dalam berbagai hal. Status yang belum jelas membuat Pulau Tujuh tergolong dalam kategori pulau yang baru dikembangkan sehingga tidak dapat menerima insentif dan masih mengalami ketergantungan dengan pemerintah pusat.

3.      Pengertian dan Fungsi Worldview
Worldview adalah suatu set ide atau asumsi atau kepercayaan tentang Allah, kehidupan alam semesta, dan apa yang ada di dalam dunia. Dapat dikatakan pula sebagai sebuah lensa yang melaluinya kita dapat melihat kenyataan hidup karena merupakan asumsi dasar dalam melihat realitas. Worldview itu abstrak karena merupakan persepsi atau cara kita memandang dan menilai suatu hal. Dengan perngertian yang berbeda akan menyebabkan perbedaan dalam berperilaku.
Setelah mengetahui pengertian dari worldview, ada baiknya untuk mengetahui apa fungsi dari worldview itu sendiri. Worldview berfungsi memberikan landasan untuk membangun suatu keputusan atau justifikasi rasional, mendasari keputusan itu masuk akal atau tidak dan memberikan rasa aman secara emosional yang akan tampak pada saat menghadapi bahaya.

4.      Pentingnya Mengenal Religius Worldview
4.1  Religius Worldview Membentuk Orientasi Hidup
Orang-orang yang berpandangan bahwa alasan menentukan kehidupan, maka orientasi hidupnya menekankan pada pentingnya akal. Sedangkan, orang-orang yang berpandangan bahwa Allah yang menentukan kehidupan, maka orientasi hidup mereka lebih menekankan bahwa pernyataan Allah itu penting. Baik akal maupun Allah, adalah dua hal yang penting dan saling berkaitan yang harus selalu disertakan dalam menentukan apa yang akan kita lakukan dalam kehidupan ini.
4.2  Religius Worldview Membangun Kemandirian
Religius worldview membimbing kita agar kuat dan kokoh bertahan dalam setiap permasalahan hidup. Karena pikiran dan cara kita memandang suatu masalah akan berpengaruh pada setiap tindakan yang mau kita putuskan. Meskipun terkadang kita bisa salah dalam mengambil keputusan dan kurang tepat dalam bertindak, kita  harus tetap  berjalan pada jalur kita  dengan memperbaiki kesalahan tersebut bukannya menghindar dan menyangkal apa yang telah terjadi. Kesalahan itu merupakan proses pendewasaan diri pribadi maka diperlukan kemandiriran diri dan pembelajaran agar tidak selalu bergantung pada orang lain. Kita berusaha mencari penyebab suatu masalah dan memecahkan masalah itu dengan pemikiran kita sendiri.
4.3  Religius Worldview Membangun Komunitas yang Sehat
Kita hidup di tengah masyarakat yang berasal dari latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda. Karena itu kita perlu untuk terbuka pada  pikiran dan pandangan dari setiap anggota masyarakat. Kita juga harus memikirkan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi semua orang, bukan hanya bagi diri kita pribadi ataupun kelompok-kelompok tertentu. Dalam memberikan pandangan kita terhadap permasalahan yang muncul, perlu juga diperhatikan apa saja yang berkaitan dengan masalah tersebut karena menyangkut kehidupan banyak orang.

Kesimpulan
Dalam menghadapi suatu permasalahan, setiap orang dituntut untuk mampu berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita diharapkan melihat setiap permasalahan yang ada dari sisi yang berbeda dan pada akhirnya dapat menemukan solusi yang terbaik. Kita harus selalu ingat bahwa ketika mengambil suatu keputusan sebagai solusi, kita harus mengarah pada religius worldview.
Dalam religius worldview, kita dituntut untuk selalu menyertakan akal dan Allah dalam mengambil keputusan. Kita tidak bisa hanya mengambil keputusan berdasarkan akal kita, atau hanya berdasarkan pemahaman terhadap kemauan Allah, melainkan harus keduanya. Dengan kita berusaha mencari penyebab suatu masalah dan memecahkan masalah itu dengan pemikiran kita sendiri, maka kita dilatih untuk menjadi mandiri. Pada akhirnya, setiap penyelesaian dan keputusan yang kita ambil harus selalu dipertimbangkan dengan memperhatikan nilai-nilai dalam masyarakat. Keputusan yang kita ambil haruslah memberi manfaat bagi semua orang, bukan hanya bagi diri kita pribadi ataupun kelompok-kelompok tertentu.
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya permasalahan seperti pada kasus diatas, diantaranya adalah: perspektif dokter terhadap kondisi pulau terpencil tersebut, anggaran dana dari pemerintah pusat, dan publikasi yang kurang. Setelah berpikir kritis dan merujuk pada religius worldview, penyelesaian yang dapat ditemukan untuk kasus yang sedang dibahas dalam makalah ini, atara lain: perbaikan sistem, mempublikasikan Pulau Tujuh lewat media cetak maupun elektronik, segera menetapkan status Pulau Tujuh, dan menghapuskan paradigma buruk para dokter terhadap Pulau Tujuh.

Daftar Pustaka
1.      Johnson EB. Contextual teaching and learning: menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikan dan bermakna. Edisi 3. Bandung: Penerbit MLC; 2007. h.187.
2.      Santrock JW. Adolescence. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Erlangga; 2003. h.141.
3.      Musrofi M. Creative manager, creative entrepreneur. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo; 2008.h.21.
4.      Manuaba IBG, Manuaba C, Manuaba F. Pengantar kuliah obstetri. Edisi 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007.h.3.
5.      Hindari konflik tetap jaga keamanan Pulau Tujuh. Edisi September 2012. Diunduh dari http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/global/11427/hindari-konflik-tetap-jaga-keamanan-pulau-tujuh.html, 01 November 2012.
6.      Kurniati A, Efendi F. Kajian SDM kesehatan di Indonesia. Jakarta Selatan: Penerbit Salemba Medika; 2012.

Sabtu, 03 November 2012

PBL Blok 1: Komunikasi Efektif dan Empati dalam Hubungan Dokter-Pasien


Pendahuluan

1.     Latar Belakang
Masyarakat saat ini adalah tipe masyarakat yang membutuhkan perhatian serta sentuhan kasih yang lebih besar karena kejenuhan mereka terhadap teknologi. Setiap kali mereka menghadapi permasalahan yang mengganggu mental maupun fisik, mereka akan berusaha mencari pertolongan. Dokter adalah salah satu tujuan yang kerap mereka datangi. Dengan datang kepada dokter, mereka tidak hanya berharap dapat disembuhkan secara fisik, tetapi juga secara mental.
Disinilah seorang dokter harus dapat melakukan komunikasi yang efektif kepada tiap masyarakat yang datang untuk mencari pertolongan. Dengan bersedia mendengarkan tiap keluhan mereka dengan sabar dan penuh perhatian, dokter secara tidak langsung telah mengurangi penderitaan pasien. Terlebih dari itu, dengan menyampaikan informasi yang benar ataupun memberikan kata-kata yang menyejukkan dan menguatkan, membuat pasien semakin merasa tertolong. Dengan komunikasi yang efektif inilah, dokter dapat meningkatkan kesehatan jiwa, kepuasan pasien, dan dapat mengurangi risiko malpraktik.
Selain mampu berkomunikasi secara efektif, dokter juga dituntut untuk memiliki rasa empati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan, menghayati, dan menempatkan diri sendiri ditempat oranglain. Dengan berempati, dokter mampu meningkatkan pertumbuhan pasien dalam hal kesucian, kebajikan, kasih dan hikmat spiritual. Tidak hanya itu, dengan berempati dokter dapat menolong pasien untuk menjadi kuat, mandiri, dan dapat melihat realitas kehidupannya.

2.     Latar Belakang Masalah
Kasus yang diberikan kali ini bercerita tentang seorang perempuan berusia 45 tahun yang menyampaikan banyak keluhan dengan cara yang kekanak-kanakan. Hal tersebut membuat dokter menjadi kesal. Dari kasus tersebut, saya melihat bahwa dokter masih belum mampu menerapkan keterampilan untuk berkomunikasi efektif. Dalam hal berempati, dokter tersebut juga tampaknya kurang berempati kepada pasien. Dokter juga tidak menangani pasien sesuai dengan egostate yang ditunjukkan oleh pasien.


Isi

1.     Sikap Diri (Ego State) Pada Manusia
Menurut Eric Berne, setiap orang mempunyai tiga sikap diri (ego state), yaitu sikap diri orang tua (parent ego state), sikap diri dewasa (adult ego state), dan sikap diri anak (child ego state)1. Tiga sikap diri ini tidak memandang usia dari masing-masing individu, entah itu remaja, orang tua, nenek, anak kecil, dsb. Berapa pun usia seorang manusia, ia bisa saya berbicara dan bersikap dalam tiga sikap diri. Terkadang mereka menjadi seperti anak-anak, kadang seperti dewasa, dan terkadang bisa seperti orang tua.
1.1  Sikap Diri Orang Tua
Sikap diri orang tua biasanya condong kearah sikap yang mengatur, menegur, menyalahkan, mengharuskan, megasuh, menghibur, dan menyayangi2. Maka dari itu, dapat diartikan bahwa sikap diri orang tua adalah bagian kepribadian yang bisa bersikap mengkritik namun juga bisa mengasuh dengan kasih namun sikap diri orang tua biasanya tidak dapat disalahkan.
1.2  Sikap Diri Dewasa
Sikap diri dewasa berarti sikap dalam menghadapai persoalan secara cerdas, menggunakan otak, terarah, tidak berpihak, mengumpulkan keterangan, dan mencari pemecahan terbaik3. Selain itu, sikap diri dewasa juga dapat dilihat dari sikap mereka yang berorientasi pada kenyataan, memberi keterangan yang diperlukan, mengalisa dan mencoba memahami situasi, membandingkan berbagai alternatif, percaya diri sendiri, tidak dipengaruhi perasaan, dan melakukan koreksi bila perlu. Maka sikap diri dewasa cenderung mengolah persoalan berdasarkan data, analisis, dan juga logika.
1.3  Sikap Diri Kanak-Kanak
Sikap diri anak ialah ketika seseorang bersikap seperti diperlihatkan oleh anak-anak. Anak-anak memiliki sikap yang spontan, ingin campur segala urusan, main-main, merengek, penuh daya cipta, bersungut-sungut, dan menganggap ringan masalah. Penampilan anak-anak dipenuhi dengan perasaan, fantasi, intuisi dan juga emosi.
1.4  Sikap Diri dalam Komunikasi
Tiap-tiap orang harus mampu menentukan “sikap diri” agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Jauh lebih baik, apabila keduanya dapat memiliki “sikap diri” dewasa dengan dewasa. Apabila salah satu pihak dalam kegiatan komunikasi menyadari tipe sikap diri manakah yang terdapat pada lawan bicara, lalu dapat menyesuaikan diri, maka komunikasi akan berjalan dengan lancar. Jadi, secara tidak langsung, keberhasilan suatu komunikasi turut didukung dengan memahami sikap diri yang ditunjukkan oleh lawan bicara kita.

2.     Komunikasi
2.1  Pengertian Komunikasi
Ada beberapa pengertian terkait dengan komunikasi. Pertama, komunikasi dapat diartikan sebagai proses interaksi penuh makna antara sesama manusia. Kedua, komunikasi adalah proses dimana makna dipertukarkan sehingga terjadi pemahaman. Ketiga, komunikasi merupakan proses dimana pesan diberikan atau diterima baik secara verbal maupun non-verbal. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses pemberian atau penerimaan pesan antar sesama manusia sehingga terjadi pemahaman baik melalui verbal (menggunakan kata-kata) maupun non verbal (tidak menggunakan kata-kata).
2.2  Komunikasi Verbal dan Non Verbal
2.2.1        Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal dapat diartikan sebagai komunikasi yang melibatkan bahasa atau perkataan4. Komunikasi verbal dapat disuarakan maupun ditulis. Dalam hal ini, kualitas suara; kecepatan; dan intonasi turut menjadi usur yang harus diperhatikan dalam komunikasi verbal. Dalam komunikasi verbal, pilihan kata yang baik adalah kunci dari keberhasilan komunikasi ini. Kata-kata membentuk realitas, sehingga mengandung kekuatan yang luar biasa.
2.2.2        Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang diungkapkan melalui pakaian dan setiap kategori benda lainnya, komunikasi dengan gerak sebagai sinyal, dan komunikasi dengan tindakan atau gerakan tubuh5. Komunikasi non verbal memiliki peran penting dalam melengkapi efektifitas komunikasi berbal, terutama saat komunikasi dilakukan secara tatap muka. Hal-hal yang dapat diperhatikan dari komunkasi non verbal adalah ekspresi mata, kontak mata, pakaian, gaya rambut, sikap tubuh (santai, wibawa, dsb), dan masih banyak lagi.



2.3  Komunikasi Satu dan Dua Arah
Komunikasi satu arah adalah situasi komunikasi dimana pengirim tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui bagaimana penerima memberikan umpan balik bagi pesannya. Sementara itu, komunikasi dua arah adalah situasi komunikasi dimana pengirim cukup leluasa mendapatkan umpan balik dari pendengarnya6.
Dari dua macam komunikasi diatas, komunikasi dua arah adalah jenis komunikasi yang paling efektif. Dengan komunikasi dua arah, akan memudahkan terbentuknya sebuah pemahaman antara pengirim dan penerima perima pesan. Dalam dunia kedokteran, komunikasi dua arah sangat dibutuhkan untuk bisa menentukan diagnosis dan cara penangan yang tepat.
2.4  Transaksi dalam Komunikasi
Dalam berkomunikasi, terjadi peristiwa transaksi yang akan tergantung pada sikap diri (ego state) dari dua atau lebih idividu yang berkomunikasi. Transaksi yang terjadi ada tiga macam, yaitu transaksi imbang (complementrey Transaction), transaksi silang (crossed transaction) dan transaksi selubung (ulterior transaction).
2.4.1        Transaksi Imbang (Complementary Transaction)
Yang dimaksud dengan transaksi imbang adalah komunikasi yang terjalin pada taraf ego state yang sama. Misalnya antara orang tua dengan orang tua, dewasa dengan dewasa, atau kanak-kanak dengan kanak-kanak. Transaksi ini dinilai paling sehat karena biasanya menghasilkan respon yang sesuai.
2.4.2        Transaksi Silang (Crossed Transaction)
Transkasi silang mengakibatkan kesenjangan dalam komunikasi karena terjadi perbedaan ego state dalam komunikasi7. Komunkasi silang lebih sering meleset karena komunikasi yang dikirim dari dan ke ego state kurang tepat pada situasi tertentu atau karena pihak yang diajak berkomunikasi tidak peka dan jawababnya tidak sesuai. Hasilnya respon yang tidak sesuai justru muncul dan memicu kemarahan, persaan bersalah, ribut, dan terkadang perilaku yang menghindar.
2.4.3        Transaksi Selubung (Ulterior Transaction)
Dalam transaksi selubung, pesan disampaikan oleh ego state tertentu dan biasanya melibatkan dua atau lebih ego state. Ada makna tersembunyi dalam komunikasi yang secara sosial dapat diterima.



3.     Komunikasi Efektif Dokter-Pasien
Dalam dunia kedokteran, seorang dokter bukan hanya harus pandai berkomunikasi, tetapi dokter juga harus memiliki keterampilan untuk berkomunikasi secara efektif. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang terjadi secara dua arah, bahasa yang digunakan dalam komunikasi adalah bahasa yang dapat diterima, terdapat unsur untuk mendengar secara aktif, memperhatikan pesan verbal dan non verbal, serta komunikasi yang sifatnya dewasa dengan dewasa (tidak otoriter dan tidak mengatur). Komunikasi dokter-pasien yang efektif sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kondisi pasien, agar dokter dapat membuat diagnosis, dan membantu pasien bekerja sama dengan dokter dalam proses penyembuhan8.
Manfaat yang dapat diperoleh dari komunikasi efektif dokter-pasien adalah: meningkatkan kesehatan jiwa, pasien lebih patuh pada pengobatan, meningkatnya kepuasan pasien, meningkatnya kepuasan dokter, dan pada akhirnya dapat mengurangi risiko malpraktik. Melihat begitu banyak manfaat yang diperoleh dari komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien, maka jelaslah bahwa komunikasi yang efektif adalah hal yang sangat penting dan harus diperhatikan oleh dokter dan pasien.
Apabila dalam prakteknya dokter dan pasien berhasil berkomunikasi secara efektif dan dapat memetik manfaat-manfaat seperti yang disebutkan diatas, maka akan menimbulkan analisa transaksionil yang bersifat ASAS-ASAS (aku senang aman sentosa). Akan tetapi jika yang terjadi kebalikannya dapat memunculkan sifat ASAS-ATISAS (aku tidak senang aman sentosa), ATISAS-ASAS, bahkan ATISAS-ATISAS.

4.     Empati
4.1  Pengertian Empati
Kebanyakan orang beranggapan bahwa empati memiliki arti dan makna yang sama dengan simpati, padahal pengertian empati adalah seseorang menempatkan dirinya secara imajinatif pada posisi orang lain9. Secara lebib luas, empati juga bisa diartikan sebagai upaya dan kemampuan untuk mengerti, menghayati dan menempatkan diri seseorang di tempat orang lain sesuai dengan identitas, pikiran, perasaan, keinginan, perilaku, tanpa mencampur-baurkan nilai. Menunjukkan empati tidak hanya lewat komunikasi verbal, namun juga dapat ditampilkan dalam non verbal (seperti: genggaman tangan, mimik muka simpatik, dsb).



4.2  Keterampilan Empati
Berempati bukan hanya sekedar berbasa-basi atau bermanis mulut kepada pasien, tetapi juga dituntut untuk memiliki keterampilan-keterampilan seperti berikut ini: mendengarkan aktif, responsif terhadap kebutuhan pasien, responsif terhadap kepentingan pasien, adanya usaha untuk memberikan pertolongan pada pasien, dan dimulai dari diri sendiri.
4.3  Mendengar Aktif
Mendengar aktif bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakuan. Meskipun demikian, mendengar aktif dapat dipelajari karena pendengar yang baik dan aktif tidak terlahir begitu saja melainkan dibentuk memlalui proses yang tidak mudah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa efisiensi mendengar rata-rata pada budaya ini hanya sekitar 25 persen saja, itu artinya walaupun kita mendengar semua kata yang diucapkan, tetapi sebenarnya kita tidak memproses semua kata-kata itu10.
Seorang dokter harus mampu mendengar aktif dengan tujuan untuk mengetahui pemikiran, perasaan, dan keinginan yang ingin disampaikan oleh pasien. Dalam mendengar aktif, dokter tidak hanya memperhatikan komunikasi verbal yang disampaikan tapi juga turut mengamati aspek-aspek non verbal yang mungkin ditunjukan oleh pasien.
4.4  Manfaat Empati
Dengan menunjukkan rasa empati terhadap pasien, seorang dokter dapat memetik manfaat-manfaat sebagai berikut:
4.4.1        Menyokong atau meningkatkan pertumbuhan dalam kesucian, kebajikan, kasih dan hikmat spiritual.
4.4.2        Menolong pasien untuk menjadi kuat
4.4.3        Menolong pasien untuk mandiri
4.4.4        Menolong pasien untuk melihat realitas
4.4.5        Menolong pasien untuk mendapatkan kepastian bahwa: masalahnya adalah masalah umum, sudah diketahui penyebabnya, ada metode perawatan, dsb.




5.     Pembahasan Kasus
Skenario B: seorang perempuan 45 tahun datang berobat ke dokter dengan banyak keluhan sering pusing, sering sakit perut, sering lemas. Dokter kesal karena pasien banyak keluhan dan mengemukakan keluhan tersebut secara kanak-kanak.
Dari kasus diatas, kita bisa melihat bahwa pasien tergolong dalam ego state kanak-kanak karena caranya menyampaikan keluhan dengan model kanak-kanak. Sayangnya disini, dokter tampak tidak memposisikan diri sebagai ego state kanak-kanak juga sehingga terjadi transaksi silang (Crossed Transaction). Transaksi silang ini mengakibatkan kesenjangan dalam komunikasi. Adapun dampak dari transaksi silang adalah respon yang memicu kemarahan, persaan bersalah, ribut, dan terkadang perilaku yang menghindar. Dalam kasus diatas, dokter menjadi kesal yang merupakan bentuk kemarahan akibat ketidakcocokan ego state.
Komunikasi yang dilakukan oleh pasien tergolong dalam komunikasi verbal, dimana pasien melibatkan bahasa atau perkataan yang disuarakan. Sementara untuk dokter, komunikasi yang dilakukan lebih ke arah non verbal (walaupun tidak disebutkan), karena perasaan kesal dokter mungkin hanya ditunjukkan lewat mimik muka atau tindakan berikutnya kepada pasien. Untuk arah komunikasinya, dalam kasus diatas lebih mengarah ke jenis komunikasi searah atau satu arah. Komunikasi satu arah ini membuat pengirim pesa (pasien) tidak menerima umpan balik dari pendengar (dokter).
Dalam hal empati, dokter tampak kurang memiliki sikap empati. Hal ini dilihat dari ketidakmampuan dokter untuk memiliki beberapa keterampilan empati seperti mendengar aktif, dan responsif terhadap kebutuhan serta kepentingan pasien. Dokter tampak hanya sambil lalu mendengarkan pasien karena tengah diliputi perasaan kesal (dalam kasus tidak begitu disebutkan). Padahal, seorang dokter seharusnya mampu mendengar aktif agar mengetahui pemikiran, perasaan, dan keinginan yang ingin disampaikan oleh pasien.
Dari beberapa pembahasan diatas, dapat dilihat bahwa dokter masih belum mampu berkomunikasi secara efektif dan berempati terhadap pasiennya. Hal ini akan menimbulkan analisa transaksionil yang bersifat ATISAS-ATISAS. ATISAS-ATISAN berarti: aku (pasien) tidak senang aman sentosa – aku (pasien) tidak senang aman sentosa. Karena semua hal tersebut, dapat dikatakan bahwa dokter gagal membangun komunikasi efektif dan empati terhadap pasien.



Kesimpulan

Dari pembahasan mengenai kasus seorang dokter yang kesal terhadap pasiennya yang banyak keluhan dan kekanak-kanakan, dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi kegagalan komunikasi efektif dan empati antara dokter dan pasien. Kesimpulan tersebut dapat dilihat dari hal-hal berikut ini:
1.      Dokter tidak mampu menyetarakan atau menyamakan ego statenya.
2.      Timbul transaksi silang yang mengakibatkan timbulnya kekesalan.
3.      Dokter menunjukkan sikap kekesalannya secara non verbal (walau tidak disebutkan dalam kasus).
4.      Pasien tidak mendapatkan umpan balik dari dokter karena komunikasi yang diberikan adalah komunikasi searah.
5.      Dokter gagal memiliki keterampilan empati dalam hal: tidak menjadi pendengar aktif dan tidak responsif terhadap kebutuhan serta kepentingan pasien.
6.      Timbul hasil ATISAS-ATISAS (keduanya “aku tidak senang aman sentosa”)
Sangat disayangkan bahwa terjadi kegagal komunikasi efektif dan empati dalam kasus diatas. Seharusnya untuk menghindari kegagalan komunikasi empati, dapat dilakuakan hal-hal sebagai berikut:
1.      Dokter menyetarakan atau menyamakan ego statenya dengan pasien. Dalam hal ini, kanak-kanak dengan kanak-kanak. Bahkan lebih baik apabila dewasa dengan dewasa
2.      Transaksi yang timbul adalah imbang karena akan menghasilkan respon yang sesuai.
3.      Pasien mendapatkan umpan baik yang seharusnya dari dokter karena terjadi komunikasi dua arah.
4.      Dokter memiliki keterampilan empati dalam hal: mendengar aktif dan responsif terhadap kebutuhan serta kepentingan pasien.
5.      Timbul hasil ASAS-ASAS (keduanya “aku senang aman sentosa”)



Daftar Pustaka

 (5) Barata, Atep Adya. Dasar Dasar Pelayanan Prima. Elex Media Komputindo.
(10) Hegner, Barbara R.; dkk. 2003. Asisten Keperawatan: Suatu Proses Keperawatan, Edisi
6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
 (8) Sukardi, Elias; dkk. 2008. Modul Komunikasi Pasien-Dokter: Suatu Pendekatan Holistik.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
 (6) Supratiknya, A. Tinjauan Psikologis: Komunikasi antarpribadi. Penerbit Kanisius.
(1,2,3,7,9) Uripni, Christina Lia; dkk. 2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
(4) Wong, Dona L; dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong, Ed 6, Vol 1 Wong.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.